Paradoks

Ia—Puan di sudut kota itu hanya ingin hilang dari peradaban yang nyaris membuatnya mati rasa. Jantungnya berdebar setiap pukul sebelas malam, baginya kegelapan akan terus membawa pada paradoks menakutkan yang sejatinya selalu menjadi anak kecil pengiring langkah sang Puan mencari ujung persimpangan.

Bahkan, ia tak paham mengapa hidup tak memberinya celah untuk bernapas. Sedikit ia penuh harap alih-alih bahagia ternyata seperti benang kusut. Dari Selatan ia terseok menuju Utara namun Barat menembakkan peluru yang tak habis-habis. 

Persetan tentang mengapa ia tumbuh menjadi sedemikian rupa, beberapa hal yang ia amati ternyata ia masih bisa berjalan walau tanpa tujuan, walau tanpa tameng, walau bercucuran, Puan hanya ingin tenang.[]

-K.AC

Postingan Populer